Menjadi anak perempuan pertama tidak menjadikan saya menanggung beban berat, begitulah awal yang saya rasakan. Sejak saya lahir hingga lulus kuliah, saya tetap menjadi anak emas yang sangat jarang dibebani pekerjaan rumah. Bagaimana tidak, sampai saya berusia 20 tahun tugas wajib saya hanyalah menyapu lantai. Dengan ukuran rumah sederhana, tentu pekerjaan ini tidak menjadi tugas berat. Mamak saya bahkan memaklumi, dengan pembelaan jika anak yang lebih menonjol dibidang akademis memang kebanyakan tidak rajin dalam melakukan pekerjaan rumah. Ah, mungkin ini hanya cara mamak saya menenangkan hati beliau sendiri. Agustus 2018 saya resmi menyandang gelar S.Pd. Secara hasil akademis saya merasa cukup. Secara kemasyarakatan, saya juga tidak merasa kurang (suatu saat akan saya ceritakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang pernah saya ikuti). Tapi, mengatur rumah? Saya merasa sangat zonk . Memasak, menyapu, mencuci, belanja, ah saya benar-benar tidak terbiasa. Lalu terlintas do'a sa...